Pernikahan Hanya 2 Minggu Berujung Cerai, Mantan Istri Bongkar Tabiat Buruk Taufik Hidayat

Kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Taufik Hidayat (30) terhadap seorang perempuan berinisial YTR di Bandung terus mengungkap fakta baru.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, berbagai pengakuan dari orang-orang terdekat mulai bermunculan, termasuk dari mantan istrinya yang mengungkap perilaku buruk pelaku selama menjalin hubungan.

Taufik ditangkap oleh aparat kepolisian pada Selasa (24/6/2026) sekitar pukul 18.30 WIB di kawasan Ciparay, Kabupaten Bandung.

Setelah diamankan, ia langsung menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari identitas, kesehatan hingga tes narkoba. Hasilnya menunjukkan bahwa tersangka dalam kondisi sehat dan siap menjalani proses hukum.

Apa alasan pelaku melakukan penganiayaan?

Dalam pemeriksaan awal, Taufik mengaku melakukan penganiayaan terhadap korban YTR karena berada di bawah pengaruh minuman keras.

Ia juga menyampaikan penyesalan atas perbuatannya setelah diamankan oleh pihak kepolisian.

Namun demikian, fakta lain menunjukkan bahwa kekerasan yang dialami korban tidak hanya sebatas penganiayaan fisik. YTR juga diduga mengalami kekerasan seksual selama menjalin hubungan dengan pelaku.

Hal ini diungkap oleh kakak ipar korban, Melanie, yang menyampaikan pengakuan korban dalam tayangan Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel.

“Saya gak berani menanyakan, cuma kemarin kebetulan ada yang bertanya. Dia bilang ‘iya, kalau saya nggak mau disiksa’,” tutur Melanie dikutipd dari TribunnewsBogor.com.

Bagaimana pengakuan mantan istri pelaku?

Pengakuan lain datang dari mantan istri Taufik, Susi, yang mengungkap pengalaman serupa saat menjalin hubungan dengan pelaku.

Ia mengaku mengenal Taufik sejak tahun 2015, saat dirinya baru lulus sekolah menengah atas.

Saat itu, ia diajak tinggal bersama di sebuah kos di kawasan Ujung Berung. Awalnya, Susi mengaku percaya karena sikap Taufik yang terlihat baik.

“Orangtuaku percaya, soalnya dia omongannya baik,” kata Susi.

Namun, setelah tinggal bersama, Susi mengaku sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Ia menyebut Taufik kerap memaksanya berhubungan layaknya suami istri dan akan marah jika keinginannya ditolak.

“Kalau misalkan dia ‘minta’, suka marah-marah kalau nggak ini gitu. Suka banting helm sama sepatu,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, pernikahan tersebut hanya bertahan selama dua minggu.

Apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka?

Susi mengungkap bahwa selama pernikahan, Taufik memiliki sifat temperamental dan sering membesar-besarkan masalah kecil. Ia juga dikenal sangat cemburuan.

“Kalau masalah kecil tuh digede-degein, cemburuan banget,” katanya.

Selain itu, Taufik juga kerap meminta kembali mahar dan cincin tunangan saat terjadi pertengkaran.

“Jadi kalau misalkan marah, ‘sini mas kawin’. Sering kayak gitu. Jadi cincin tunangan sama mas kawin dibawa semua. Pas nikah dikasih emas 10 gram,” tutur Susi.

Merasa tidak sanggup menghadapi perilaku tersebut, Susi akhirnya meminta untuk dipulangkan ke rumah orang tuanya, terlebih saat dirinya tengah hamil.

“Terus pas hamil mohon-mohon, pulangin ke rumah,” ucapnya.

Ia juga mengungkap bahwa selama hidup bersama, dirinya tidak diperbolehkan keluar rumah atau beraktivitas bebas.

“Jadi gak usah keluar, gak boleh ke mana-mana,” katanya.

Bagaimana hubungan pelaku dengan anaknya?

Dari pernikahan tersebut, Susi dan Taufik memiliki seorang anak yang kini berusia sekitar 10 tahun.

Namun, Susi menyebut bahwa pelaku tidak pernah menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ayah.

Ia mengaku Taufik tidak pernah memberikan nafkah kepada anaknya sejak lahir. Bahkan, dalam kurun waktu 10 tahun, pelaku hanya dua kali menjenguk anaknya.

“Gak pernah nengok, emang pernah ada sekali, dalam waktu 10 tahun cuma ditengok 2 kali. Tidak membiayai,” tandas Susi.

Rangkaian pengakuan dari korban dan mantan istri pelaku menunjukkan adanya pola perilaku kekerasan yang berulang.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa tindakan penganiayaan terhadap YTR bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola yang telah berlangsung lama.

sc: Kompas.com